Pendidikan Bagi Komunitas Adat Batin Sembilan

Opini

Suatu hari aku mengajar anak-anak Batin Sembilan di sekitar hutan. Aku sengaja tidak belajar di kelas hari itu agar anak-anak tidak terlalu bosan.

"Pak guru, sini lah, kami dapat buah Tayas pak," ujar salah seorang murid pada ku disela-sela kami belajar.

"Manis ini pak," sambungnya lagi. Aku pun penasaran. Buah itu mirip sekali dengan buah mangga, namun baunya lebih tajam. Ku coba saja mencicipi demi menjawab rasa penasaran ku.

"Wah..," aku merasa tertipu. Aku mengernyitkan dahiku dan menahan asam, ternyata rasanya asam sekali.

Aku mengambil sebuah pelajaran menarik dari kejadian itu. Ternyata takaran rasa "manis" ku dan anak-anak Batin Sembilan sangat berbeda. Perbedaan yang mencolok sekali. Aku jadi berfikir yang sama dalam hal-hal lain, baik itu yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif.

Standar Budaya

Standar kebahagiaan

Standar Kehidupan

Standar Pendidikan

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Lulusan Fakultas Pendidikan Uiversitas Jambi. Mengabdikan diri untuk pendidikan bagi kaum Komunitas adat marginal dan terpencil.

Popular