Sekolah kelas jauh atau lebih familiar di
sebut SEKOLAH BESAMO HUTAN HARAPAN, diawali dengan proses sekolah dari kelompok-kelompok
rumah yang berada di pinggir kawasan hutan harapan sekitar pertengahan tahun
2008. Ada empat lokasi yang di jalani oleh satu orang guru untuk mengajar
menulis, membaca, dan berhitung dari satu kelompok rumah ke kelompok rumah
lainnya secara bergantian, lokasi tersebut pertama di Camp 35 di mushola exs
asialog, kedua di rumah Bapak Alamsik Simpang Koni, ketiga di rumah Bapak Hasan
Badak Simpang Macan Luar, dan keempat di rumah Bapak Ajir. MT Simpang Macan
Dalam, dengan jumlah murid lebih kurang 30 siswa dari empat lokasi tersebut.
Setelah berjalan selama satu tahun setengah, anak-anak sudah bisa baca tulis
dan berhitung, kemudian para orang tua siswa menginginkan anak-anak mereka
mendapatkan ijzah SD dan bisa melanjutkan pendidikan ke SMP. Dari beberapa
usulan orang tua siswa, PT. REKI berdiskusi dengan dinas P&K Kecamatan
Bajubang dan mendapat solusi agar di buka kelas jauh di daerah tersebut yang
menginduk di SDN 49/I Bungku. PT. REKI sepakat bekerja sama dengan pihak dinas
pendidikan kecamatan dan pihak sekolah induk untuk sama-sama melaksanakan dan
memfasilitasi proses pendidikan dasar, atas dasar sama-sama mempunyai kewajiban
untuk mencerdaskan anak-anak bangsa khususnya anak-anak Suku Anak Dalam (SAD)
yang berda di dalam kawasan PT. REKI.
Kerja sama dilaksanakan mulai dari bulan
April 2010, di buka dua lokasi kelas, dua orang guru dan pelaksanaan KBM dipagi
dan sore hari mengikuti kurikulum dan peraturan-peraturan SD induk, tetapi ada
pengecualian karena berbeda komposisi budaya, adat istiadat, dan kebiasaan
siswa dan orang tua siswa, oleh karena itu di sepakati peraturan yang bisa di
ikuti harus di laksanakan dan yang tidak bisa di ikuti sebaiknya di sesuaikan
untuk sementara waktu, sebab banyak terdapat keragaman dari siswa-siswa,
seperti halnya baju seragam sekolah dan
lain-lainnya. Dari mulai bulan april 2010 sampai dengan bulan juli 2010
dilaksanakan pra sekolah sebagai bekal pemantapan belajar untuk anak-anak
memasuki tahun ajaran baru tahun pelajaran 2010-2011, setelah pra sekolah
selama kurang lebih tiga bulan siswa-siswa tersebut di daftarkan ke SD induk
agar mendapatkan hak yang sama sebagai siswa SD negeri yang resmi. Pada tahun
ajaran 2010-2011, jumlah siswa yang bersekolah sekitar 49 siswa yang di bagi
atas dua lokasi kelas, diantaranya kelas simpang macan dan kelas camp 35.
Kelas simpang macan di bangun secara
bergotong royong dengan masyarakat sekitar kelas, PT.REKI, dan LSM Warsi,
dengan ukuran kelas empat kali enam meter persegi yang bahan bangunannya
terbuat dari papan. Pada kesempatan tersebut Bapak Ruslan MT selaku tokoh
masyarakat simpang macan dalam menghibahkan rumahnya yang tidak terpakai di
bahar unit 15 untuk di bongkar secara bergotong royong dan materialnya akan
dipergunakan sebagai bangunan kelas yang telah disepakati di bangun di samping
rumah Bapak Ajir MT, dan PT. REKI menyumbang semen, pasir, dan seng untuk
lantai dan atap kelas. Kelas camp 35 memakai bangunan mushola bekas PT. Asialog
yang sudah tidak terpakai dengan kondisi bangunan lantai rapuh, atap bocor,
kemudian di lakukan perbaikan. Setelah siswa di daftarkan ke SD induk, tempat
belajar atau kelas siap pakai, proses belajar dan mengajar di jalankan dengan
dua teknis, Simpang macan sekolah pagi mulai dari jam delapan sampai dengan jam
sebelas tiga puluh siang, dan kelas camp 35 sekolah sore mulai masuk jam dua
siang dan pulang jam lima sore, dari hari senin sampai dengan hari sabtu.
Kegiatan Belajar Mengajar di laksanakan oleh dua orang guru yang terdiri dari
dua tingkat kelas, kelas satu dan kelas tiga, di pilih berdasarkan umur untuk
menentukan mereka duduk di kelas satu atau kelas tiga.
Target utama awal perjalanan sekolah ini
adalah siswa bisa membaca, menulis dan berhitung. Setelah berjalan enam bulan,
pada bulan Desember 2010 anak-anak mengikuti ujian semester pertama untuk
pengisian nilai rapor , dan pada saat libur mereka di ajak karyawisata dan
study banding ke SDN Bertarap Internasional (SBI), museum kota jambi, dan kolam
renang hotel abadi di kota jambi untuk menambah motivasi dan pengetahuan
belajar anak-anak. Memasuki semester dua anak-anak rata-rata sudah bisa
menulis, membaca mengeja, dan berhitung tetapi sangat minim sekali pengetahuan
tentang budi pekerti dan pengetahuan agama islam. Di bulan desember memasuki
semester dua di tambah satu orang guru agama islam yang juga merangkap sebagai
guru kelas. Memasuki enam bulan berikutnya siswa-siswa sudah mengetahui dan
hafal huruf-huruf hija iyah dan kelas satu naik kelas dua, kelas tiga naik
kelas empat. Banyak kegiatan-kegiatan sekolah baik kegiatan belajar atau pun
kegiatan ekstrakurikuler mereka ikuti dalam tahun ajaran 2011-2012, seperti
pemberian Makanan Tambahan Anak (MTA), seragam sekolah dari PT.REKI dan SD
induk, pelatihan lagu-lagu islami untuk penampilan Hari Besar Islam (HBI),
sholat magrib berjamaah, mengaji malam, dan study banding ke pondok pesantren
di Kabupaten Batang Hari.
Tahun ajaran 2011-2012 kelas siswa
bertambah menjadi satu kelas untuk kelas satu, dan jumlah siswa berkurang
menjadi 40 siswa, sembilan siswa keluar karena mereka berumur terlalu tua dan
merasa malu untuk melanjutkan sekolah. Kelas yang ada terdiri dari kelas satu, dua, dan kelas
empat. Karena banyaknya siswa, maka guru kelas di tambah satu orang lagi
menjadi empat orang guru kelas yang mengajar di dua lokasi kelas/lokal
tersebut. Mulai pertengahan semester dua tahun ajaran 2011-2012 PT. REKI
membangun kelas baru di simpang macan dengan bahan bangunan terbuat dari kayu
limbah yang sudah tumbang karena gejala alam di dalam hutan PT. REKI yang
diolah sehingga berbentuk kayu papan dan balok persegi, karena pertimbangan
kelas lama di simpang macan sudah tidak layak pakai. Setelah bangunan didirikan
dengan ukuran lima kali Sembilan meter persegi yang dibagi menjadi tiga ruang
kelas, kemudian bangunan sekolah baru, di resmikan oleh sekda Batang Hari dan
dinas P&K Kecamatan Bajubang di bulan maret tahun 2012. Sekolah mencapai
puncak kemajuan pesat, anak-anak sudah tujuh puluh persen bisa mengikuti
pelajaran dan memahami pelajaran selayaknya sekolah-sekolah dasar di luar.
Bulan april semester dua tahun ajaran
2011-2012 sistem pengajaran di sekolah berubah menjadi sekolah pagi, dengan
pemecahan dua orang guru menetap di
kelas simpang macan dan dua orang guru menetap di kelas camp 35. Sekolah
berjalan lebih baik lagi, pada pagi hari siswa sekolah formal dan sore hari
mereka di ajarkan pengetahuan agama islam dan mengaji. Memasuki tahun ajaran
2012-2013 di bulan tiga semester dua, sekolah di satukan menjadi satu tempat
belajar di lokal simpang macan, karena PT. REKI menyediakan mobil sekolah yang
di modifikasi untuk medan berlumpur dan becek agar proses antar jemput berjalan
lancar. Anak-anak dari camp 35 lebih kurang 30 orang di jemput dan di antar
setiap harinya, di bawa ke kelas simpang macan untuk mengikuti proses belajar
dan mengajar, hasilnya lebih efektif, guru lebih fokus dan anak-anak senang
karena suasana sekolah yang banyak teman-teman mereka bermain dan belajar.
Jumlah kelas tahun ajaran 2012-2013, terdiri dari kelas satu, kelas dua, kelas
tiga dan kelas lima dengan total siswa berjumlah 54 siswa. Di tahun ajaran
2013-2014 jumlah siswa sebanyak 54 siswa, terdiri dari kelas dua, tiga, empat,
dan kelas enam.
Dari tahun ke tahun,
kondisi ruang belajar di Simpang Macan Dalam semakin memprihatinkan dan tidak
layak untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Warga dan masyarakat
setempat tidak lagi menginginkan dan menjaga keberadaan Ruang belajar itu. Atap
Sekolah, dinding dan pintu dirusak dan di jarah warga. Dengan kondisi ini guru
mencoba berdiskusi dengan para orang tua murid, dan tercetuslah keputusan bahwa
sekolah perlu dipindahkan yang lokasinya di simpang tanding. Para wali murid
siap untuk membantu dalam mendirikanya.
Pada awal 2017, dengan dana seadanya
dari bantuan PT Reki, pembangunan ruang belajar baru di Simpang Tanding Mulai
dikerjakan. Kegiatan belajar mengajar pun tergangu selama hampir 3 bulan.
Dengan
memanfaatkan Kayu limbah dari Hutan Harapan, dan peralatan yang dimiliki warga,
dan beberapa wali murid yang peduli, Ruang belajar pun akhirnya berdiri. Pada
bulan Mei 2017 Ruangan sudah benar-benar dapat digunakan untuk Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM). KBM aktif kembali pada awal bulan Mei 2017 hingga saat ini.














