Pendidikan Bagi Komunitas Adat Batin Sembilan

  • Literacy bagi anak Batin Sembilan

    Anak-anak Batin sembilan harus terbebas dari buta huruf dan aksara.

  • Vina

    Konsentrasi dan fokus dalam sendiri maupun bersama.

  • Fasilitasi Pendidikan

    Mereka berhak mendapatkan pelayanan pendidikan baik formal maupun informal.

  • Keceriaan

    Ceria dan gembira untuk sejenak melepas penat.

  • Kami ada

    Kami ada dan kami juga bagian dari Indonesia dan Dunia.

Sabtu, 13 Juli 2019

Mang Dani

"Hu hu hu hu, kenapalah adik aku yang jadi korban? Hu hu hu hu, dasar kamu peramba kurang ajar. Aku tebas leher kamu kalau ketemu, hu hu hu. Nian aku tebas nian," seorang wanita paruh baya  meracau dengan tersedu-sedu sambil mengacung-acungkan parang ke arah yang tak tentu.

Kami masih sibuk mengurusi mang Dani yang kepalanya koyak akibat bacokan benda tajam. Bu Sulis dan bu Susan sibuk mengambil medis dan obat-obatan sebagai pertolongan awal. Klinik itu terasa mencekam sekali. Orang-orang ramai berkerumun.

"Sebaiknya kita antar ke Rumah Sakit Sungai Bahar" usul bu Sulis. Segera saja kami mencari kendaraan untuk mengantarnya. Setelah pertolongan pertama dilakukan dan kendaraan siap, segera saja kami meluncur.

Sang wanita berkeras untuk turut serta menemani mang Dani yang tidak lain adalah adik nya, kami tak kuasa melarangnya. Dengan parang masih terhunus, Ia masih saja meracau sepanjang perjalanan. Beruntung dia naik dibagian belakang bak mobil double cabbin yang kami tumpangi.

******

Kejadian itu terasa cepat sekali. Serasa seperti mimpi saja.

Siang itu mang Dani sedang memperbaiki atap pondok barunya yang di seberang sungai, karena musim penghujan sebentar lagi pada masa puncak. Pondok harus segera rampung dan sesegera mungkin akan ditempati karena kebun Para yang baru ditanam sudah mulai menampakkan tunas-tunas daun baru. Daun baru adalah kesukaan Simpai, terlebuh daun Para. Demi menjaga kebun Para tetap aman, harus ada yang menunggu, untuk inilah keberadaan Pondok ini dimaksudkan.

Matahari telah membubung tinggi, namun atap belum seluruhnya selesai. Tiba-tiba sayup terdengar gemuruh deru puluhan motor semakin lama semakin dekat dan jelas. Letak pondok mang Dani yang menjorok kedalam kawasan hutan beberapa ratus meter menghalangi pandangan mang Dani akan apa gerangan sebenarnya deru puluhan motor itu. Namun pendengaranya yang masih baik tak dapat mengingkari jika itu adalah bunyi deru puluhan motor yang melintas memasuki hutan bagian dalam dengan kecepatan tinggi.

Ini tidak seperti biasanya. Dalam perkiraanya motor ini lebih dari sepuluh. Dengan sedikit bertanya-tanya dalam hati, mang Dani segera turun dari pekerjaanya dan segera mengkalungkan golok dipingganya. Seketika itu juga diengkolnya motor Revo tunggangan sehari-hari, dengan terburu-buru langsung tancap gas. Mang Dani bermaksud mengejar Gerombolan motor asing itu demi menjawab rasa penasarannya. Jalanan setapak yang penuh lekukan dan tonjolan diembat tanpa dirasa.

Dijalan raya sudah tak nampak lagi Gerombolan yang melintas itu, bahkan debu pun sudah bersih dari pandangan. Mang Dani sudah tertinggal cukup jauh sehingga Ia benar-benar harus mengepolkan laju Revo tunggangannya.

Setelah hampir satu jam, akhirnya rombongan terlihat, namun mereka sudah berhenti. Nampaknya sudah sampai pada tujuan yang mereka inginkan. Jalanan penuh sesak dengan Gerombolan yang berhenti. Perkiraan awal rombongan Gerombolan tersebut berkisar duapuluhan motor, ternyata salah. Motor berjumlah lebih dari tujuh puluhan, ada yang berboncengan dan ada yang sendiri.

Hati mang Dani ciut seketika, namun dengan keberanian yang tersisa, digebernya Revo tungganganya dan menerobos Gerombolan orang yang tak dikenalnya itu. Di seberang sana adalah Pemondokan kelompok mang Dani, tinggal beberapa orang yang menghuni.

Dalam benak mang Dani hanyalah kecurigaan dan emosi. Ini tidak seperti biasa, Ia merasa sedang diserang oleh musuh.

Penghuni pondok yang tidak tahu-menahu kaget dan kecut melihat begitu banyak rombongan  orang menyatroni pemukiman mereka. Mereka tak berani keluar pondok. Demi melihat mang Dani datang menyeberangi Gerombolan yang bertumpuk di jalanan, timbul keberanian penghuni pondok untuk keluar dan mendekat ke arah mang Dani.

Mang Dani yang terlanjur berdekatan dengan Gerombolan tak dikenal mencoba berkomunikasi.

"Ini orangnya, ini orangnya!" terdengar suara dari arah Gerombolan. Seketika itu mang Dani terkepung dan tiba-tiba entah benda apa yang hinggap dengan keras di kepalanya, darah pun mengucur.

Melihat keadaan tak bersahabat, Penghuni pondok lari berbalik kepondok, beberapa mengambil Kecepek terisi berpeluru dan menembakkan sembarang ke arah rombongan. Beruntung peluru tak mengena anggota Gerombolan tak dikenal. Seketika itu pula keadaan berbalik. Gerombolan tak dikenal menjadi kecut dan tiarap. Kini justru Peghuni pondok yang hanya bebereapa orang yang berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan senjata ke arah Gerombolan.

Seketika itu, tim perlindungan hutan dengan membawa beberapa kendaraan roda empat tiba. Demi melihat dua pihak bertikai dengan senjata terhunus, dengan tergesa-gesa personil turun ke tengah-tengah pertikai. Melihat ada korban yang jatuh, segera saja beberapa personil melarikan ke klinik untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Share:

Kamis, 07 Maret 2019

Sejarah Sekolah Besamo


Sekolah kelas jauh atau lebih familiar di sebut SEKOLAH BESAMO HUTAN HARAPAN, diawali dengan proses sekolah dari kelompok-kelompok rumah yang berada di pinggir kawasan hutan harapan sekitar pertengahan tahun 2008. Ada empat lokasi yang di jalani oleh satu orang guru untuk mengajar menulis, membaca, dan berhitung dari satu kelompok rumah ke kelompok rumah lainnya secara bergantian, lokasi tersebut pertama di Camp 35 di mushola exs asialog, kedua di rumah Bapak Alamsik Simpang Koni, ketiga di rumah Bapak Hasan Badak Simpang Macan Luar, dan keempat di rumah Bapak Ajir. MT Simpang Macan Dalam, dengan jumlah murid lebih kurang 30 siswa dari empat lokasi tersebut. Setelah berjalan selama satu tahun setengah, anak-anak sudah bisa baca tulis dan berhitung, kemudian para orang tua siswa menginginkan anak-anak mereka mendapatkan ijzah SD dan bisa melanjutkan pendidikan ke SMP. Dari beberapa usulan orang tua siswa, PT. REKI berdiskusi dengan dinas P&K Kecamatan Bajubang dan mendapat solusi agar di buka kelas jauh di daerah tersebut yang menginduk di SDN 49/I Bungku. PT. REKI sepakat bekerja sama dengan pihak dinas pendidikan kecamatan dan pihak sekolah induk untuk sama-sama melaksanakan dan memfasilitasi proses pendidikan dasar, atas dasar sama-sama mempunyai kewajiban untuk mencerdaskan anak-anak bangsa khususnya anak-anak Suku Anak Dalam (SAD) yang berda di dalam kawasan PT. REKI.

Kerja sama dilaksanakan mulai dari bulan April 2010, di buka dua lokasi kelas, dua orang guru dan pelaksanaan KBM dipagi dan sore hari mengikuti kurikulum dan peraturan-peraturan SD induk, tetapi ada pengecualian karena berbeda komposisi budaya, adat istiadat, dan kebiasaan siswa dan orang tua siswa, oleh karena itu di sepakati peraturan yang bisa di ikuti harus di laksanakan dan yang tidak bisa di ikuti sebaiknya di sesuaikan untuk sementara waktu, sebab banyak terdapat keragaman dari siswa-siswa, seperti halnya baju seragam sekolah  dan lain-lainnya. Dari mulai bulan april 2010 sampai dengan bulan juli 2010 dilaksanakan pra sekolah sebagai bekal pemantapan belajar untuk anak-anak memasuki tahun ajaran baru tahun pelajaran 2010-2011, setelah pra sekolah selama kurang lebih tiga bulan siswa-siswa tersebut di daftarkan ke SD induk agar mendapatkan hak yang sama sebagai siswa SD negeri yang resmi. Pada tahun ajaran 2010-2011, jumlah siswa yang bersekolah sekitar 49 siswa yang di bagi atas dua lokasi kelas, diantaranya kelas simpang macan dan kelas camp 35.

Kelas simpang macan di bangun secara bergotong royong dengan masyarakat sekitar kelas, PT.REKI, dan LSM Warsi, dengan ukuran kelas empat kali enam meter persegi yang bahan bangunannya terbuat dari papan. Pada kesempatan tersebut Bapak Ruslan MT selaku tokoh masyarakat simpang macan dalam menghibahkan rumahnya yang tidak terpakai di bahar unit 15 untuk di bongkar secara bergotong royong dan materialnya akan dipergunakan sebagai bangunan kelas yang telah disepakati di bangun di samping rumah Bapak Ajir MT, dan PT. REKI menyumbang semen, pasir, dan seng untuk lantai dan atap kelas. Kelas camp 35 memakai bangunan mushola bekas PT. Asialog yang sudah tidak terpakai dengan kondisi bangunan lantai rapuh, atap bocor, kemudian di lakukan perbaikan. Setelah siswa di daftarkan ke SD induk, tempat belajar atau kelas siap pakai, proses belajar dan mengajar di jalankan dengan dua teknis, Simpang macan sekolah pagi mulai dari jam delapan sampai dengan jam sebelas tiga puluh siang, dan kelas camp 35 sekolah sore mulai masuk jam dua siang dan pulang jam lima sore, dari hari senin sampai dengan hari sabtu. Kegiatan Belajar Mengajar di laksanakan oleh dua orang guru yang terdiri dari dua tingkat kelas, kelas satu dan kelas tiga, di pilih berdasarkan umur untuk menentukan mereka duduk di kelas satu atau kelas tiga.
Target utama awal perjalanan sekolah ini adalah siswa bisa membaca, menulis dan berhitung. Setelah berjalan enam bulan, pada bulan Desember 2010 anak-anak mengikuti ujian semester pertama untuk pengisian nilai rapor , dan pada saat libur mereka di ajak karyawisata dan study banding ke SDN Bertarap Internasional (SBI), museum kota jambi, dan kolam renang hotel abadi di kota jambi untuk menambah motivasi dan pengetahuan belajar anak-anak. Memasuki semester dua anak-anak rata-rata sudah bisa menulis, membaca mengeja, dan berhitung tetapi sangat minim sekali pengetahuan tentang budi pekerti dan pengetahuan agama islam. Di bulan desember memasuki semester dua di tambah satu orang guru agama islam yang juga merangkap sebagai guru kelas. Memasuki enam bulan berikutnya siswa-siswa sudah mengetahui dan hafal huruf-huruf hija iyah dan kelas satu naik kelas dua, kelas tiga naik kelas empat. Banyak kegiatan-kegiatan sekolah baik kegiatan belajar atau pun kegiatan ekstrakurikuler mereka ikuti dalam tahun ajaran 2011-2012, seperti pemberian Makanan Tambahan Anak (MTA), seragam sekolah dari PT.REKI dan SD induk, pelatihan lagu-lagu islami untuk penampilan Hari Besar Islam (HBI), sholat magrib berjamaah, mengaji malam, dan study banding ke pondok pesantren di Kabupaten Batang Hari.
Tahun ajaran 2011-2012 kelas siswa bertambah menjadi satu kelas untuk kelas satu, dan jumlah siswa berkurang menjadi 40 siswa, sembilan siswa keluar karena mereka berumur terlalu tua dan merasa malu untuk melanjutkan sekolah. Kelas yang ada  terdiri dari kelas satu, dua, dan kelas empat. Karena banyaknya siswa, maka guru kelas di tambah satu orang lagi menjadi empat orang guru kelas yang mengajar di dua lokasi kelas/lokal tersebut. Mulai pertengahan semester dua tahun ajaran 2011-2012 PT. REKI membangun kelas baru di simpang macan dengan bahan bangunan terbuat dari kayu limbah yang sudah tumbang karena gejala alam di dalam hutan PT. REKI yang diolah sehingga berbentuk kayu papan dan balok persegi, karena pertimbangan kelas lama di simpang macan sudah tidak layak pakai. Setelah bangunan didirikan dengan ukuran lima kali Sembilan meter persegi yang dibagi menjadi tiga ruang kelas, kemudian bangunan sekolah baru, di resmikan oleh sekda Batang Hari dan dinas P&K Kecamatan Bajubang di bulan maret tahun 2012. Sekolah mencapai puncak kemajuan pesat, anak-anak sudah tujuh puluh persen bisa mengikuti pelajaran dan memahami pelajaran selayaknya sekolah-sekolah dasar di luar.
Bulan april semester dua tahun ajaran 2011-2012 sistem pengajaran di sekolah berubah menjadi sekolah pagi, dengan pemecahan dua orang guru menetap di  kelas simpang macan dan dua orang guru menetap di kelas camp 35. Sekolah berjalan lebih baik lagi, pada pagi hari siswa sekolah formal dan sore hari mereka di ajarkan pengetahuan agama islam dan mengaji. Memasuki tahun ajaran 2012-2013 di bulan tiga semester dua, sekolah di satukan menjadi satu tempat belajar di lokal simpang macan, karena PT. REKI menyediakan mobil sekolah yang di modifikasi untuk medan berlumpur dan becek agar proses antar jemput berjalan lancar. Anak-anak dari camp 35 lebih kurang 30 orang di jemput dan di antar setiap harinya, di bawa ke kelas simpang macan untuk mengikuti proses belajar dan mengajar, hasilnya lebih efektif, guru lebih fokus dan anak-anak senang karena suasana sekolah yang banyak teman-teman mereka bermain dan belajar. Jumlah kelas tahun ajaran 2012-2013, terdiri dari kelas satu, kelas dua, kelas tiga dan kelas lima dengan total siswa berjumlah 54 siswa. Di tahun ajaran 2013-2014 jumlah siswa sebanyak 54 siswa, terdiri dari kelas dua, tiga, empat, dan kelas enam.
Dari tahun ke tahun, kondisi ruang belajar di Simpang Macan Dalam semakin memprihatinkan dan tidak layak untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Warga dan masyarakat setempat tidak lagi menginginkan dan menjaga keberadaan Ruang belajar itu. Atap Sekolah, dinding dan pintu dirusak dan di jarah warga. Dengan kondisi ini guru mencoba berdiskusi dengan para orang tua murid, dan tercetuslah keputusan bahwa sekolah perlu dipindahkan yang lokasinya di simpang tanding. Para wali murid siap untuk membantu dalam mendirikanya.



Pada awal 2017, dengan dana seadanya dari bantuan PT Reki, pembangunan ruang belajar baru di Simpang Tanding Mulai dikerjakan. Kegiatan belajar mengajar pun tergangu selama hampir 3 bulan.
Dengan memanfaatkan Kayu limbah dari Hutan Harapan, dan peralatan yang dimiliki warga, dan beberapa wali murid yang peduli, Ruang belajar pun akhirnya berdiri. Pada bulan Mei 2017 Ruangan sudah benar-benar dapat digunakan untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). KBM aktif kembali pada awal bulan Mei 2017 hingga saat ini.



Share:

Rabu, 06 Maret 2019

Air mata pertama


Amat banyak cerita yang sudah aku dapatkan. Bersama mereka anak-anak yang haus akan ilmu, anak-anak yang “lapar” akan perhatian, anak-anak yang luar biasa. 19 Agustus 2015 perkenalan awalku dengan mereka, tatapan mata mereka penuh dengan kecurigaan memperhatikanku seorang lelaki kurus, berkumis, dan berjenggot tebal berdiri dihadapan mereka. Waktu itu di Sekolah mereka, Sekolah Bersamo Hutan Harapan,  Simpang Macan. Senyum mereka senyum manis penuh balas dendam. Dendam akan rasa rindu mereka terhadap sosok seorang guru. Satu bulan lebih mereka ditinggalkan oleh guru mereka, dua guru sebelumnya berhenti mengajar dan satu guru pergi menghadap ilahi. Dan disini aku diberikan amanat untuk bisa melanjutkan perjuangan guru-guru sebelumnya.
Cukup sedih melihat keadaan mereka, baju seadanya dan terlihat sobek disana-sini. Sebagian dari mereka bersekolah tanpa beralaskan sandal atau sepatu. Namun disisi lain semangat mereka begitu tingi untuk belajar. Cukup kewalahan menghadapi tingkah laku mereka, ya mereka anak-anak yang super aktif. Memanjat ruang sekolah, menaiki meja belajar, berteriak- teriak bahkan berkelahi sudah menjadi “makanan” sehari-hari untuk aku. ‘Ini bukan budaya mereka, ini hanya kebiasaan mereka yang berangsur-angsur pasti bisa aku arahkan kearah yang lebih baik’. Mencoba menguatan diri waktu itu. Satu hal yang aku syukuri, kenyamanan langsung bisa aku dapatkan bersama mereka anak-anak yang luar biasa ini. 

Penulis: Rio AF
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Lulusan Fakultas Pendidikan Uiversitas Jambi. Mengabdikan diri untuk pendidikan bagi kaum Komunitas adat marginal dan terpencil.

Popular