"Hu hu hu hu, kenapalah adik aku yang jadi korban? Hu hu hu hu, dasar kamu peramba kurang ajar. Aku tebas leher kamu kalau ketemu, hu hu hu. Nian aku tebas nian," seorang wanita paruh baya meracau dengan tersedu-sedu sambil mengacung-acungkan parang ke arah yang tak tentu.
Kami masih sibuk mengurusi mang Dani yang kepalanya koyak akibat bacokan benda tajam. Bu Sulis dan bu Susan sibuk mengambil medis dan obat-obatan sebagai pertolongan awal. Klinik itu terasa mencekam sekali. Orang-orang ramai berkerumun.
"Sebaiknya kita antar ke Rumah Sakit Sungai Bahar" usul bu Sulis. Segera saja kami mencari kendaraan untuk mengantarnya. Setelah pertolongan pertama dilakukan dan kendaraan siap, segera saja kami meluncur.
Sang wanita berkeras untuk turut serta menemani mang Dani yang tidak lain adalah adik nya, kami tak kuasa melarangnya. Dengan parang masih terhunus, Ia masih saja meracau sepanjang perjalanan. Beruntung dia naik dibagian belakang bak mobil double cabbin yang kami tumpangi.
Kejadian itu terasa cepat sekali. Serasa seperti mimpi saja.
Siang itu mang Dani sedang memperbaiki atap pondok barunya yang di seberang sungai, karena musim penghujan sebentar lagi pada masa puncak. Pondok harus segera rampung dan sesegera mungkin akan ditempati karena kebun Para yang baru ditanam sudah mulai menampakkan tunas-tunas daun baru. Daun baru adalah kesukaan Simpai, terlebuh daun Para. Demi menjaga kebun Para tetap aman, harus ada yang menunggu, untuk inilah keberadaan Pondok ini dimaksudkan.
Matahari telah membubung tinggi, namun atap belum seluruhnya selesai. Tiba-tiba sayup terdengar gemuruh deru puluhan motor semakin lama semakin dekat dan jelas. Letak pondok mang Dani yang menjorok kedalam kawasan hutan beberapa ratus meter menghalangi pandangan mang Dani akan apa gerangan sebenarnya deru puluhan motor itu. Namun pendengaranya yang masih baik tak dapat mengingkari jika itu adalah bunyi deru puluhan motor yang melintas memasuki hutan bagian dalam dengan kecepatan tinggi.
Ini tidak seperti biasanya. Dalam perkiraanya motor ini lebih dari sepuluh. Dengan sedikit bertanya-tanya dalam hati, mang Dani segera turun dari pekerjaanya dan segera mengkalungkan golok dipingganya. Seketika itu juga diengkolnya motor Revo tunggangan sehari-hari, dengan terburu-buru langsung tancap gas. Mang Dani bermaksud mengejar Gerombolan motor asing itu demi menjawab rasa penasarannya. Jalanan setapak yang penuh lekukan dan tonjolan diembat tanpa dirasa.
Dijalan raya sudah tak nampak lagi Gerombolan yang melintas itu, bahkan debu pun sudah bersih dari pandangan. Mang Dani sudah tertinggal cukup jauh sehingga Ia benar-benar harus mengepolkan laju Revo tunggangannya.
Setelah hampir satu jam, akhirnya rombongan terlihat, namun mereka sudah berhenti. Nampaknya sudah sampai pada tujuan yang mereka inginkan. Jalanan penuh sesak dengan Gerombolan yang berhenti. Perkiraan awal rombongan Gerombolan tersebut berkisar duapuluhan motor, ternyata salah. Motor berjumlah lebih dari tujuh puluhan, ada yang berboncengan dan ada yang sendiri.
Hati mang Dani ciut seketika, namun dengan keberanian yang tersisa, digebernya Revo tungganganya dan menerobos Gerombolan orang yang tak dikenalnya itu. Di seberang sana adalah Pemondokan kelompok mang Dani, tinggal beberapa orang yang menghuni.
Dalam benak mang Dani hanyalah kecurigaan dan emosi. Ini tidak seperti biasa, Ia merasa sedang diserang oleh musuh.
Penghuni pondok yang tidak tahu-menahu kaget dan kecut melihat begitu banyak rombongan orang menyatroni pemukiman mereka. Mereka tak berani keluar pondok. Demi melihat mang Dani datang menyeberangi Gerombolan yang bertumpuk di jalanan, timbul keberanian penghuni pondok untuk keluar dan mendekat ke arah mang Dani.
Mang Dani yang terlanjur berdekatan dengan Gerombolan tak dikenal mencoba berkomunikasi.
"Ini orangnya, ini orangnya!" terdengar suara dari arah Gerombolan. Seketika itu mang Dani terkepung dan tiba-tiba entah benda apa yang hinggap dengan keras di kepalanya, darah pun mengucur.
Melihat keadaan tak bersahabat, Penghuni pondok lari berbalik kepondok, beberapa mengambil Kecepek terisi berpeluru dan menembakkan sembarang ke arah rombongan. Beruntung peluru tak mengena anggota Gerombolan tak dikenal. Seketika itu pula keadaan berbalik. Gerombolan tak dikenal menjadi kecut dan tiarap. Kini justru Peghuni pondok yang hanya bebereapa orang yang berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan senjata ke arah Gerombolan.
Seketika itu, tim perlindungan hutan dengan membawa beberapa kendaraan roda empat tiba. Demi melihat dua pihak bertikai dengan senjata terhunus, dengan tergesa-gesa personil turun ke tengah-tengah pertikai. Melihat ada korban yang jatuh, segera saja beberapa personil melarikan ke klinik untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Kami masih sibuk mengurusi mang Dani yang kepalanya koyak akibat bacokan benda tajam. Bu Sulis dan bu Susan sibuk mengambil medis dan obat-obatan sebagai pertolongan awal. Klinik itu terasa mencekam sekali. Orang-orang ramai berkerumun.
"Sebaiknya kita antar ke Rumah Sakit Sungai Bahar" usul bu Sulis. Segera saja kami mencari kendaraan untuk mengantarnya. Setelah pertolongan pertama dilakukan dan kendaraan siap, segera saja kami meluncur.
Sang wanita berkeras untuk turut serta menemani mang Dani yang tidak lain adalah adik nya, kami tak kuasa melarangnya. Dengan parang masih terhunus, Ia masih saja meracau sepanjang perjalanan. Beruntung dia naik dibagian belakang bak mobil double cabbin yang kami tumpangi.
******
Kejadian itu terasa cepat sekali. Serasa seperti mimpi saja.
Siang itu mang Dani sedang memperbaiki atap pondok barunya yang di seberang sungai, karena musim penghujan sebentar lagi pada masa puncak. Pondok harus segera rampung dan sesegera mungkin akan ditempati karena kebun Para yang baru ditanam sudah mulai menampakkan tunas-tunas daun baru. Daun baru adalah kesukaan Simpai, terlebuh daun Para. Demi menjaga kebun Para tetap aman, harus ada yang menunggu, untuk inilah keberadaan Pondok ini dimaksudkan.
Matahari telah membubung tinggi, namun atap belum seluruhnya selesai. Tiba-tiba sayup terdengar gemuruh deru puluhan motor semakin lama semakin dekat dan jelas. Letak pondok mang Dani yang menjorok kedalam kawasan hutan beberapa ratus meter menghalangi pandangan mang Dani akan apa gerangan sebenarnya deru puluhan motor itu. Namun pendengaranya yang masih baik tak dapat mengingkari jika itu adalah bunyi deru puluhan motor yang melintas memasuki hutan bagian dalam dengan kecepatan tinggi.
Ini tidak seperti biasanya. Dalam perkiraanya motor ini lebih dari sepuluh. Dengan sedikit bertanya-tanya dalam hati, mang Dani segera turun dari pekerjaanya dan segera mengkalungkan golok dipingganya. Seketika itu juga diengkolnya motor Revo tunggangan sehari-hari, dengan terburu-buru langsung tancap gas. Mang Dani bermaksud mengejar Gerombolan motor asing itu demi menjawab rasa penasarannya. Jalanan setapak yang penuh lekukan dan tonjolan diembat tanpa dirasa.
Dijalan raya sudah tak nampak lagi Gerombolan yang melintas itu, bahkan debu pun sudah bersih dari pandangan. Mang Dani sudah tertinggal cukup jauh sehingga Ia benar-benar harus mengepolkan laju Revo tunggangannya.
Setelah hampir satu jam, akhirnya rombongan terlihat, namun mereka sudah berhenti. Nampaknya sudah sampai pada tujuan yang mereka inginkan. Jalanan penuh sesak dengan Gerombolan yang berhenti. Perkiraan awal rombongan Gerombolan tersebut berkisar duapuluhan motor, ternyata salah. Motor berjumlah lebih dari tujuh puluhan, ada yang berboncengan dan ada yang sendiri.
Hati mang Dani ciut seketika, namun dengan keberanian yang tersisa, digebernya Revo tungganganya dan menerobos Gerombolan orang yang tak dikenalnya itu. Di seberang sana adalah Pemondokan kelompok mang Dani, tinggal beberapa orang yang menghuni.
Dalam benak mang Dani hanyalah kecurigaan dan emosi. Ini tidak seperti biasa, Ia merasa sedang diserang oleh musuh.
Penghuni pondok yang tidak tahu-menahu kaget dan kecut melihat begitu banyak rombongan orang menyatroni pemukiman mereka. Mereka tak berani keluar pondok. Demi melihat mang Dani datang menyeberangi Gerombolan yang bertumpuk di jalanan, timbul keberanian penghuni pondok untuk keluar dan mendekat ke arah mang Dani.
Mang Dani yang terlanjur berdekatan dengan Gerombolan tak dikenal mencoba berkomunikasi.
"Ini orangnya, ini orangnya!" terdengar suara dari arah Gerombolan. Seketika itu mang Dani terkepung dan tiba-tiba entah benda apa yang hinggap dengan keras di kepalanya, darah pun mengucur.
Melihat keadaan tak bersahabat, Penghuni pondok lari berbalik kepondok, beberapa mengambil Kecepek terisi berpeluru dan menembakkan sembarang ke arah rombongan. Beruntung peluru tak mengena anggota Gerombolan tak dikenal. Seketika itu pula keadaan berbalik. Gerombolan tak dikenal menjadi kecut dan tiarap. Kini justru Peghuni pondok yang hanya bebereapa orang yang berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan senjata ke arah Gerombolan.
Seketika itu, tim perlindungan hutan dengan membawa beberapa kendaraan roda empat tiba. Demi melihat dua pihak bertikai dengan senjata terhunus, dengan tergesa-gesa personil turun ke tengah-tengah pertikai. Melihat ada korban yang jatuh, segera saja beberapa personil melarikan ke klinik untuk mendapatkan pertolongan pertama.














